![]() |
Darman Ardy |
Mamasa – Untuk kepentingan
rakyat, boleh-boleh saja seseorang mengunkapkan unek-uneknya di media
sosial (Medsos), sepanjang tidak menista
Suku, Agama dan Ras (Sara). Tak heran
jika fesbuker Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar) rajin posting
status di wall-nya. Itu demi Mamasa yang dicintai.
Seperti itulah Darman Ardy seorang wartawan senior Mamasa
melakukan kritik membangun untuk daerahnya. Dalam postingannya, Rabu
(27/07/2016) ia tuliskan. “Proyek pemeliharaan
Gedung DPRD Mamasa
tahun 2016 dengan pagu anggaran kurang lebih 1 M lebih. Ini diduga kua t di-markup. Hanya mengganti atap dan plavon saja, kok sampai anggaran milyaran, apalagi hanya satu bagian gedung saja yang dikerjakan.
Pak Jaksa dan Pak Polisi, jangan tutup mata.”
Postingan Darman Ardy yang juga adalah
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sulbar,
mendapat tanggapan dari Anggota DPRD Mamasa David Bamba Layuk ,
ia berkomentar. “Coba kita foto bagian
belakang pak, sangat memprihatinkan.”
Lalu direspon Pasamboan Pangloli.
“Dindaku David
Bamba Layuk lebih ahli kalau masalah momen beban atap. Harus
pula menghitung gaya horisontal (angin) dari barat (bara'). Ditimpali kemudian
oleh David Bamba Layuk. ”Betul
kanda, tapi hampirmi tidak ada motif mamasanya
ini bangunan.”
Baca Juga
![]() |
Rehab Gedung DPRD Mamasa (foto: fb Darman Ardy) |
Dari perbincangan soal teknis hingga ciri khas untuk bangunan Mamasa
untuk Gedung DPRD Mamasa hingga netizen menyarankan untuk direlokasi saja. Misalnya, Eli Interisti berkomentar. “Mending
direlokasi aja. Bangun yang baru.” Dijawab kemudian oleh Tomakaka Messawa,
Pasamboan Pangloli .
“Relokas i ke Messawa, saya siapkan tanah hibah 2 Ha.” Lalu bergeser lagi ke
komentar Fandhy Tiger. “Hadehhh parahhhh betull.” Dipanasi kemudian oleh Demma To Rhea Boiles
dalam bahasa stempat. “Itai benna
dibengan inde proyek. Polisi raka, Kejaksaan
raka. Aka makak ku pengngitai, maka proyek
yang cenderung bermasalah sidibengan oknum polisi battu kejaksaan.”
Karena mengarah ke dugaan Darman Ardy menimpali kemudian. “Saudaraku Demma To
Rhea Boiles, kita tidak mau menjastifikasi tentang siapa dibalik proyek tersebut
, yang jelasnya diduga kuat di mark-up.” Lalu ditanggapi Demus Atc Mamasa. “Mantap pak Darman Ardy usut
sampai tuntas.” Ditambah kemudian oleh Fredy Siswanto. “Hal
seperti ini perlu diusut tuntas. Anggaran sebanyak itu tidak masuk
akal, kasihan uang rakyat dijilat begitu saja.” Juga oleh Arruan Pasau. “Sebagian dikemanakan, tidak
mungkin hanya atap saja, kalau terus kayak begini, kapan Mamasa bisa maju.”
Cukup miris memang di
gedung parlemen Mamasa dikerjakan
secara king kalikong, hingga diduga mark-up
bukankan di sana ada 30 orang legislator
yang berkantor. Mereka memiliki hak untuk mengawasi penggunaan
dana yang bersumber
dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Derah (APBD). Ada
60 biji mata anggota DPRD Mamasa yang
melihatnya setiap saat. Jangan dituding oleh
rakyat, “Gajah mati di depan mata tidak dilihat,
kuman mati di seberang laut dilihat”
LS
No comments:
Post a Comment
Komentar