Kamis, 25 Agustus 2016

Wah, Cukup Lama Kasus Embung Desa Kanan dan MP3KI diTangani Polres Mamasa?


AKP Syamsuriansyah, SE
AKP Syamsuriansyah, SE
Mamasa -  Tiga kasus tindak pidana korupsi (Tipikor)  yang terbilang cukup alot  peroses  peyidikannya, Peroyek Percepatan  Perluasan Kemiskinan Indonesia (MP3KI) tahun 2014,  proyek  embung Desa Kanan tahun 2015 dan kasus Bendahara MP4K  Kabupaten Mamasa, yang ditangani  Kepolisian Resor (Polres) Mamasa. Menurut  Kepala Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim), Ajun Komisaris Polisi (AKP) Syamsuriansyah, SE, tetap lanjut, meskipun telah berbilang bulan penanganannya.

Kepada  wartawan di ruang kerjanya, Selasa (25/08/2016), katakan kalau untuk MP3KI  di Kecamatan  Tabulahan, pihaknya, sepekan kemudian akan  menjemput  hasil audit  investigasi dari Badan Pemeriksa Keuangan Repbulik Indoesia  (BPK RI) untu memastikan  jumlah  kerugian  negara  akibat  tindak korupsi ini.

“Kami telah menetapkan dua tersangka dalam kasus MP3KI  ini,” kata Syamsuriansyah.

Untuk kasus Tipikor MP3KI  di Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar)  ini  ditangani oleh Sat Reskrim Polres Mamasa sejak akhir  Februari lalu. Hingga kini proses penyidikannya masih berlansung.

Sementara   kasus adanya penerobosan hutang lindung pembangunan embung di Desa Kanan, Kecamatan Tandu Kalua. Salah satu titik dari Paket Pekerjaan “Pembangunan Embung Kabupaten Mamasa (2 buah). Unit Kerja Direktorat Jenderal Sumber Daya Air dengan Satuan Kerja (Satker) PPK Sungai Pantai (SUPAN) 2. Pelaksana pekerjaan PT  Tirsa Artha Mandiri, dengan nilai kontrak Rp.  2. 879. 712. 000.  Yang mulai berproses di Polres sejak Maret lalu. Menurut  Kasat Reskrim, juga tetap jalan.

Dua kasus ini yang ditangani  Sat  Reskrim Polres Mamasa  ini, dilihat rentang waktu penanganannnya  memang  terbilang alot. Karena hingga Agustus tahun ini, belum diajukan ke pengacara negara (baca: Kejaksaan  Negeri Mamasa) untuk dilakukan penuntutan.  
LS

Rabu, 24 Agustus 2016

Camat dan Kapolsek Sumarorong, Sigap Selesaikan Masalah Hadiah Yang tak Lazim

AKP Lambertus dan Pilipus Maeri
AKP Lambertus dan Pilipus Maeri

Mamasa – Hampir saja perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) yang ke-71 di Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar)  bedampak tidak nyaman, akibat pemberian  hadiah  yang tidak lazim, sebuah CD yang bukan compact disk.

Camat  Sumarorong, Pilipus Maeri  yang ditemui, Rabu (24/08/2018) di ruang kerjanya katakan kalau sejak 3 hari lalu, bersama Kapolsek Sumarorong, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Lambertus, mencari  solusi atas  kesalahapaman  ini.
Menurut  Maeri, pihaknya ambil alih masalah ini, sebagai  tanggungjawab pimpinan wilayah kecamatan.  Menurutnya, semuanya  sudah jelas dan tidak ada lagi masalah. Pihak yang merasa dilecehkan dengan pemberian hadiah yang tidak lazim, sudah paham. Begitu  juga  panitia HUT RI kecamatan, seksi yang menangai  hadiah sudah jelaskan. Kalau pemberian hadiah tersebut, tidak ada tujuan untuk melecehkan.

“Bersama dengan Kapolsek, kami sudah selesaikan kesalahapahaman ini. Karena memang kalau dilihat secara sepintas, pemberian souvenir atau hadiah  berupa pakaian dalam wanita  memang  tidak etis, apalagi daerah kita ini sangat  menjunjung adat.  Saya kira semua daerah juga begitu, karena ini memang tidak lazim. Namun pihak panitia yang memberi  hadiah  sudah menyadari kekelurian ini. Serta, menjelaskan, kalau tidak ada tujuan untuk melecehkan,” papar Maeri  lagi.

Senada dengan hal tersebut, Kapolsek Sumarorong yang ditemui di Mapolsek, katakan pula kalau persoalan hadiah yang tidak lazim dan menimbulkan perasaan tidak enak itu sudah selesai melalui komunikasi dan kesempatakan. Pihak yang merasa dilecehkan sudah paham dan tidak mempersoalkan lagi. Sementara penyelenggara kegiatan juga sudah menyadari kekeliruannya dan meminta maaf.

“Semua, sudah sepakat, termasuk LSM dan wartawan untuk selesaikan masalah ini. Kami kira inilah yang  terbaik, sebelum hal ini bergulir menjadi  hal besar dan bisa  berdampak bagi nama baik daerah. Apalagi  kejadian berkaitan dengan  perayaan HUT RI yang ke-71,” tambah Kapolsek.

Kesigapan  Kapolsek dan Camat  Sumarorong menangani  “insiden” hadiah pakaian  dalam  wanita,  sebelum berdampak secara luas, menunjukkan adanya, tanggungjawab dan komunikasi antar unusur pimpinan dalam wilayah Kec Sumarorong. In demi kewibawaan dan nama baik daerah. Apalagi selama ini, Kec Sumarorong dikenal sebagai kecamatan terdepan  sebagai  gate way Kabupaten Mamasa dengan Badar Udara-nya.
LS

Senin, 22 Agustus 2016

Lentera Sulawesi, Bekerja Pada Sisi Lain “menDuniakan” Mamasa


Ilustrasi (foto: Int/LS)
Ilustrasi (foto: Int/LS)
Mamasa Tanggapan  Octovianus Danunan, Sabtu (20/08/2016)  yang menuliskan di wall-nya. “Lentera Sulawesi  media  yang tadak fair, dan tadak jeli melihat fakta.  Sekedar  media yang tidak  punya visi dan tadak  bisa melihat fakta dan kenyataan. Media yang  tak punya konfirmasi  ke  pihak penyelengara, sepihak  dan tidak memenuhi standar  jurnalistik, sangat tendensius dan tdk netral. Tetapi apapun bentuknya  warga  Mamasa  tidak  bodoh dan sudah bisa menilai sendiri.”

Itu adalah sebuah sisi  baik  untuk site ini, karena  pribadi Octovianus Danunan adalah  bagian yang  telah mengisi dan men-charge baterai  jurnalistik lenterasulawesi  dalam diskusi  jarak jauh via personal facebook (PF). Demikian  juga Tomakaka Messawa, Pasamboan Pangloli. Adalah tak pantas lenterasulawesi  mendebat  keduanya, yang telah dituakan.

Namun untuk kedua senior  kami  Octovianus Danunan dan Pasamboan Pangloli, lenterasulawesi  sampaikan, sebuah  publikasi  kadang  seperti sebiji durian masak di pohon. Ketika kita lansung mencomot sebiji  itu, mulut kita akan terkena durinya. Tetapi jika dibuka  dengan pelan lalu biji-bijinya dikeluarkan, dimasukkan ke mulut dan dikunyah, akan terasa manis dan nikmat.

Ketika lenterasulawesi  memulung informasi  perdebatan di media sosial (Medsos) dan melakukan spot interview di PF dan menpublis  tentang rekor Muri Pompang  Mamasa. Site ini selalu mengingat  tagline “Ayo ke Mamasa.”  Sebagai sebuah media di  dunia  maya  (Dumay), mencoba mengajak, memancing dan membangunkan dunia  luar untuk berselancar  (Surfing)  ke Mamasa.

Tim editor  IT  lenterasulawesi  telah melakukan  riset  kecil dengan  mencoba  key words “Mamasa” “Pompang” “ “Rekor Muri Pompang Mamasa”  kata yang sering dipakai  lenterasulawesi  di mesin pencarian  google. Ternyata ribuan orang telah surfing dari  seluruh  belahan dunia, ingin  tahu. Tentu  dengan  sendirinya, mereka secara  tak  sadar mengikuti  ajakan “Ayo ke Mamasa.”

Sekarang, mereka  telah ke Mamasa  dan lenterasulawesi  adalah salah satu  pintunya. Tentu dari sekian banyak pintu-pintu yang disiapkan untuk membangun  Mamasa  sebagai  pusat  destinasi  wisata. 
LS

Babinsa Kodim 1402/Polmas Dengan Perpustakaan Kelilingnya



Sertu Patong dengan Perpus kelilingnya
Sertu Patong dengan Perpus kelilingnya
Mamasa – Untuk membumikan budaya  literasi, salah satunya adalah memancing  minat  baca  anak-anak yang menurun,  ditambah dengan harga buku mahal dan banyak keluarga yang tidak mampu membelinya. Untuk itu, Kodim 1402/Polmas  melalui Bintara Bina Desa (Babinsa), ciptakan perpustakaan keliling  dengan  sepeda  motor . Ini untuk  melayani  buku anak-anak di masing-masing wilayah binaan Babinsa tersebut.

Salah satunya, seperti  yang dilakukan Babinsa Koramil 1402-05/Mamasa, Sesan Satu (Sertu)  Patong.  Untuk meningkatkan minat baca  anak-anak di wilayah  binaannya,  ia mengoperasionalkan motor perpustakaan  keliling di Kabupaten Mamasa.

Menurut  Danramil 1402-05/Mamasa, Sabtu (20/08/2016) Kapten Inf Syarifuddin, bahwa  kehadiran  perpustakaan keliling ini bertujuan untuk menjangkau wilayah  pedalaman  yang  tak  punya  akses buku.

“Sebab, dengan adanya perpustakaan para siswa atau warga yang ingin membaca tidak kesulitan lagi memperoleh bahan bacaan. Disamping itu, dengan program ini, daerah terpencil yang tak memiliki perpustakaan berkesempatan mendapatkan bacaan lewat motor perpustakaan keliling Babinsa,” ujarnya.

Babinsa pun dalam mengoperasionalkan perpustakaan keliling tersebut menyambangi  taman bermain anak-anak sehingga dengan mudah anak-anak dapat membaca buku.

“Saya rasa dengan mengadakan program perpustakaan keliling saat ini, minat baca akan meningkat. Sebab, mereka tidak kesulitan lagi untuk memperoleh bahan bacaan, perpustakaan keliling sebagai alternatif untuk pemasyarakatan budaya baca,” terang Danramil 1402-05/Mamasa  tersebut.

(kontrisbusi Aslan Latief/LS)

Minggu, 21 Agustus 2016

Kepsek SMP Tasonde: Pengelolaan Dana Dacil Tidak Obyektif dan Sarat Kepentingan?



Hafid, S.Pd
Hafid, S.Pd
Mamuju Utara  - Kepala Sekolah  (Kasek)  SMP Tosonde, Kecmatan Bambalamotu, Kabupaten Mamuju Utara (Matra), Sulawesi Barat (Sulbar),  Hafid, S. Pd, Sabtu  (20/08/2016)  katakan  kalau pengelolaan  dana  Daerah Terpencil  (Dacil)  bagi sekolah- sekolah  yang  masuk kategori  terpencil  dan sudah dapat  Surat  Keputusan (SK) tetap sebagai  sekolah terpencil dari Pemerintah Pusat, sejatinya  secara otomatis  bisa mendapatkan tunjangan Dacil  bagi guru yang mengajar di sekolah tersebut.  Namun kenyataannya masih  banyak sekolah yang yang masuk kategori  gurunya tidak mendapatkan tunjangan itu.

“Tentunya  ini  pertanyaan  besar  bagi  para guru. Kami  sangat kecewa dengan  manajemen  pengelolaan  Dana Terpencil  di  Diknas  yang   syarat kepentingan  dan tidak obyektif dalam pengusulan data ke pusat,” tandas Hafid.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Kepsek SMP Tasonde ini,  sejak  sekolah SMP  ini berdiri sejak tahun 2011, baru satu kali mendapatkan tunjangan Dacil pada tahun 2013, padahal  status  sekolah ini  belum dicabut SKnya  sebagai sekolah terpencil. Ada  juga  guru  yang setiap tahun mendapatkan  tunjangan Dacil itu.

"Saya menduga bahwa pasti ada permainan di pengelolaan data dana terpencil dan pasti ada kepentingan oknum di dalamnya" ungkapnya.

Dia  menyarakan  agar   pengelolaan  Dacil  yang ditangani oleh seksi PMTK Diknas direformasi kembali.  Menurutnya,  dibutuhkan  orang- orang  yang profesional  dan punya rasa keadilan.  Jangan  lagi ada karena  faktor kedekatan dan adanya komitmen  sehingga  rasa keadilan itu hilang.

"Saya  juga siapji  komitmen, asal  jangan  berlebihan mintanya,” tambahnya, membuka sinyalemen “kongsi-kongsi” pengelolaan dana Dacil.

Kegerahan Hafid  ini  memang  sangat  berasalan meliha kondisi SMP Tasonde. Karena  hingga sekarang ini, sekolahnya masih sangat   Ruang Kelas  Belajar (RKB), bahkan untuk kelas 1 masih melantai. Juga  sekolah  kekuarangan ruang  kantor, dimana  administrasi  sekolah berpusat.


Selain SMP Tasonde ini, hasil pantauan  dan  data  Agus  Riayadi, jurnalis setempat  dari  tabloid  Lentera Merah  sekolah-sekolah  yang  masih melantai adalah, SDN  Taba,  Kecamatan Bambaira dan  SDN Inpres  Sawi kecamatan Bambalamotu.
(Ags/wis)