Baca Juga
![]() |
Ilustrasi (foto: int/ls) |
Dugaan
malpraktek tersebut, pertama kali dihembuskan oleh sejumlah media On Line (OL).
Itu berdasarkan keterangan orang tua Akifa.
Juga dalam pemberitaan tersebut, bayi Akifa, berkali disebutkan sebagai “korban”
sehingga terjadilah dugaan sementara RSUD Matra lakukan malpraktek.
Dalam
situasi bersedih dan berduka ayah Akifa, Muh Yahya – dalam beberapa kali
penyebutan media disebut sebagai ayah “korban” -- yang ditemui wartawan di
rumahnya di Bulu Cindolo, Pasangkayu, menceritakan kronologis kejadian.
Bagaimana anaknya yang meninggal setelah menjalani proses medis di RSUD Ako.
Dalam keterangan Yahya, disebutkan
bahwa saat tiba di RSUD Ako anaknya langsung menuju ke ruang Unit Gawat Darurat (UGD).
Tanpa diagnosa dari dokter, selang infus langsung dipasang ketangan anaknya.Lalu
perawat katakan bahwa anaknya harus dirawat. Kemudian anaknya disuntik. Selesai disuntik putri Yahya tersebut langsung kejang - kejang
hingga menghembuskan nafas terakhirnya.
Dalam keteragannya pula kepada
wartawan, Muh Yahya katakan, saat anaknya disuntik oleh perawat, sempat salah
satu dari mereka menarik tangan perawat yang melakukan penyuntikan, sehingga
cairan suntikan tersebut tidak habis masuk kedalam tangan Aqifa karena langsung
ditarik.
“Setelah
disuntik dan dipasangi infus Aqifa
kemudian kejang – kejang, di saat yang bersamaan perawat di RSUD Ako
menyampaikan kalau anak saya harus dirujuk. Padahal sebelum disuntik anak saya
masih saya gendong dan masih dalam keadaan normal. Masih sempat bermain dengan
perawat, namun belum sempat dibuatkan surat rujukan, anak saya sudah
meninggal. Kondisi Aqifa saat itu kaku dan bibirnya langsung membiru, “ jelasnya
kepada wartawan.
Jawaban pihak RSUD Ako yang dikonfirmasi
ketika itu, melalui Kepala Tata Usaha (KTU), Ibrahim mengatakan, sampai saat itu
belum ada penyempaian dari dokter jaga terkait adanya bayi yang meninggal. Menurut Ibrahim yang berhak menyampaikan rekam medik
pasien itu adalah dokter.
Tindak
lanjut dugaan malpraktek ini, kemudian orang tua Akifah mendatangi rumah sakit
Pemkab Matra tersebut. Mereka diterima ruangan KTU dan bertemu pihak dokter yang menangani Akifa saat
berada di RSUD Ako. Hadir pula ditempat tersebut sejumlah awak media dan Ikram
Ibrahim, anggota DPRD Matra.
Sayangnya dalam pertemuan ini tidak
dihadiri Direktur RSUD Ako yang
sejatinya memfasilitasi dan mengambilalih persoalan krusial ini. Hingga dokter
yang menangani pasien Akifah harus berhadapan
dengan yang terkait. Apakah ini memang prosedur RSUD Ako, pihak menajemen rumah
sakit mendelegasikan pada dokter untuk
menangani komplain dari pasien.
Dalam pertemuan ini Dokter Mariati yang tangani
pasien Akifa menjelaskan, bahwa penanganan medik yang dilakukan pihak RSUD
sudah melalui prosedur yang ada. Itu kemudian tidak dimengerti oleh orang tua Akifa dan terjadi sedikit
perdebatan. Lalu kemudian datang Ketua Komite Medik (KKM) RSUD Ako, Dr Willy
Sp. B menjelaskan tentang penanganan yang dilakukan pada saat pasien yang dirawat.
Willy katakan, mengenai adanya pemberitaan terkait dugaan malpraktek akibat
meninggal karena disuntik , itu tidak, benar karena yang disuntikkan itu adalah obat
anti biotik dan cc-nya (takarannya, red). sudah sesuai. Dikatakannya bahwa
pihaknya telah melakukan
pemeriksaan terkait dengan rekam medik yang ada, pihak dokter yang menangani
pasien tersebut sudah sesuai standar pelayanan yang ada di RSUD Ako.
Dalam penjelasannya dr.
Welly katakan dan berkesimpulan bahwa kematian Aqifah disebabkan oleh penyakit
bronkopneumoni (infeksi paru-paru) yang dideritanya sudah cukup parah. Itu
didapat setelah ia dan sejumlah dokter mencari status pasien yang bersangkutan. Juga
ia yakin, semuanya sudah sesuai dengan protap yang berlaku di RSUD.
Meskipun
demikian, dr Willy tetap mempersilahkan kedua orang tua Aqifah ataupun pihak-
pihak terkait lain untuk mendatangkan seorang ahli. Bila belum puas dengan keterangan
pihak RSUD Ako.
Sementara ayah Akifa, Muh Yahya dihadapan
wartawan katakan, bahwa mengenai penjelasan dokter, secara pribadi ia telah menerimanya. Namun kordinasi dulu dengan keluarga. Karena
ini juga pembelanjaran buat manajemen rumah sakit, agar lebih berhati - hati saat menangani
pasien. Yahya yang cukup legowo meskipun berduka ditinggal putrinya berharap,
apa menimpa dirinya ini menjadi pembelajaran. Pelayanan di RSUD
ini sejatinya diperbaiki dan ditingkatkan.
(LS)
No comments:
Post a Comment
Komentar