Cari di Blog Ini

Followers

Saturday, July 30, 2016

Benarkah DPRD Abaikan Suara Rakyat Soal Calon Pengganti Wati Mamasa?

Baca Juga

Bupati Mamasa dan Ketua Alwama
Bupati Mamasa dan Ketua Alwama
Mamasa – Ketua Aliansi Wartawan Mamasa (Alwama), Andi Waris Tala, Jumat (29/07/2016)  kembali “hidupkan” media sosial (Medsos) fesbuker Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar) dengan melontarkan saran di wall-nya, terkait Pergantian  Antarwaktu (PAW) Wakil Bupati (Wati) yang ditinggal mendiang Almarhum Victor Paotonan.  Kepala Biro harian Rakyat  Sulbar  menuliskan.

“Sekaitan dengan PAW  Wakil Bupati  Mamasa  (Almarhum  Victor Paotonan, S. Sos), Alinasi Wartawan Mamasa (Alwama) mengharapkan agar  Bupati  benar-benar  konsisten menjalankan perintah  UU No 10 tahun  2016,  pasal 176  ayat  2  yang berbunyi, Partai Politik atau Gabungan Partai Politik Pengusung  mengusulkan 2 (dua) calon wakil bupati  kepada  DPRD  melalui  Bupati untuk dipilih dan ditetapkan di paripurna. Hal ini dimaksudkan agar  bupati  benar-benar selektif memilih pendamping  yang  dianggap  sepaham dan sejalan demi Mamasa  yang  mamase  dengan  mengedepankan  keterwakilan wilayah yang  berazaskan  keadilan!  Salam Ketua ALWAMA (AWT).”

Itu kemudian direspon Rudolf Rudolf . “Ini juga pak ketua kita, rembuk dulu, hejejejej.”  Disambung Johny Mallato. “MARTHINUS TIRANDA !” Lalu ditanggapi  Rudolf Rudolf  secara melenceng dengan  sengaja. “Pak Obed dan Pasamboan Pangloli.” Lalu dikembalikan ke reelnya sesuai status Ketua Alwama oleh   Sulbar Raya Biro Mamasa. “ Hal ini perlu dibedah secara mendalam,  agar benar-benar orang berkompetensi  yang dapat menduduki jabatan  Wakil Bupati. Jika elit mulai  bungkam, maka  rakyat  yang harus bersikap. Daerah Mamasa yang  dicintai bukan hanya milik kaum menengah  atas saja,  namun milik semua lapisan masyarakat.”  Direspon Sutimaryono Sutimaryono. “Pokoknya mantap.”

Itu kemudian memunculkan legislator  Mamasa, David Bamba Layuk  dengan tanggapan.  “Hehehe.” Lalu legislator lainnya Jufri Sambo Madika  berkomentar. “Pemilihan PAW  Wakil Bupati mempunyai aturan sendiri dalam UU oleh sebab itu jangan terlalu jauh membawa isu ke arah isu premordialisme, jangan sampai mengganggu stabilitas keamanan Daerah kita, soal siapa nantinya yang akan terpilih dari wilayah atau agama manapun  itulah pilihan rakyat yang diwakili Oleh Partai Politik yang akan memilih nantinya. Terpenting  adalah Wakil Bupati  terpilih nanti berkomitmen untuk  mensejahterakan Rakyat Mamasa  lewat  pembangunan dalam segala  bidang.  Sebagai  bukti saat  ini,  Bupati Mamasa  dari  wilayah III tapi komitmennya untuk membangun  wilayah lain sudah terbukti, seperti di Kecamatan Pana dua Tahun APBD 2015,  2016  berturut mendapatkan anggaran kurang lebih 20 milyar  pada hal bupatinya  bukan orang Pana.  Jadi  bagi  saya tidak  penting  mempersoalkan  wilayah, agama  ataupun golongan dalam proses  PAW  Wakil Bupati.” Disambung  David Bamba Layuk.  “Mantap  dinda JSM, pemikiran brilian anak mudah Mamasa, pemimpin masa depan.” Disanggah Johny Mallato.  “Tapi suara mayoritaspun  perlu diperhatikan, bia r ada  keseimbangan di Bumi Kondo Sapata. Ini sangat penting!”

Ketua Alwama, Andi Waris Tala terus menangkis  Jufri Sambo Madika. “Itu menurut Anda, tapi  menurut  rakyat  lain browww!  Ingat rakyat Kabupaten Mamasa punya hak bersuara!  Wakil  rakyat  tidak berhak membungkam  hak mereka!. Lalu direspon sejuk David Bamba Layuk.  Makanya pilihan  nant i pasti  beda- beda kanda  AWT, karena masing-masing  mewakili konstituen mereka. Selamat berjuang.”

Rupanya telah ada sinyalemen kalau kalau legislator Mamasa abaikan suara rakyat. Itu dipertegas oleh Sulbar Raya Biro Mamasa. Benar Pak AWT, jika para  wakil  rakyat  mulai  berpaling  dari  rakyat, maka rakyat perlu bersikap.”  Terus Jufri Sambo Madika menanggapi serius. “Tidak ada  yang  membungkam  hak  rakyat.  Justru kita minta rakyat bersuara sebanyak – banyaknya,  tapi kan tidak semua rakyat  pendapatnya sama. Sebagai  wakil rakyat  mempertimbangkan  semua  pendapat rakyat.”

Debat  soal  suara  rakyat antara rakyat dan wakilnya membuat  Andi Waris Tala  semakin pedas. “Tunggu saja, kalau wakil rakyat tidak lagi merakyat. Maka kami  (rakyat)  yang akan bersuara.” Lalu disambungnya  kemudian. “Kita liat saja, apakah yang setuju dengan saya cuma 1 ekor atau justru ribuaan, tunggu saja pak!”

Wooww, kreen. Kita tinggalkan saja debat-debat   Medosos antara rakyat dan wakilnya di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Mamasa. Karena seperti  iklan coki-coki ,  panjang  dan lama. Pastinya Alwama, sinyalir adanya pengabaian suara-suara rakyat. Benarkah, lihat saja episode selanjutnya dari drama  Mencari  Penggati  Wati Mamasa.

LS

No comments:

Post a Comment

Komentar

Hak Cipta: @lenterasulawesi . Powered by Blogger.